'Safran' Sang Pegiat Cagar Budaya di Kecamatan Hu'u


CAKRAWALADESA.COM, Dompu - Safran (55), mendedikasikan sebagian hidupnya untuk menjaga, merawat dan melestarikan cagar budaya yang ada di Kecamatan Hu'u. Di temui di kediamannya, di Dusun Fo'o Kompo, Desa Daha Kecamatan Hu'u, Kabupaten Dompu, Sabtu (13/06), Safran, menuturkan, tentang keprihatinannya akan peninggalan-peninggalan kuno yang banyak diambil bahkan dicuri oleh orang yang tidak bertanggungjawab.

Berangkat dari keprihatinan itu, dia mengidentifikasi serta menyimpan beberapa benda cagar budaya di ruang khusus di rumahnya. Beberapa peninggalan berupa batu nisan, keris, uang logam, gelang dan beberapa pecahan dari keramik. Benda-benda kuno tersebut disimpan baik di dalam lemari, peti dan bahkan ada yang dibiarkan di lantai dengan beralaskan tikar.

"Saya melihat banyak cagar budaya  dibawa keluar daerah, sehingga ketika nanti, kita bicara tentang sejarah kampung kita, sudah tidak ada buktinya," ujarnya.

Karena aktivitasnya mengumpulkan dan mengetahui beberapa situs serta peninggalan kuno ini, membuatnya pernah dikunjungi oleh tim Balai Arkeologi Denpasar di kediamannya. Bahkan ketika itu, tim ini bersama Polres dan media nasional meminta bantuannya untuk memberikan informasi terkait keberadaan situs serta peninggalan sejarah di kecamatan Hu'u.

Dalam kesempatan yang lain, Safran pernah dikunjungi juga oleh akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Ketika itu, mereka meminta kepadanya agar koleksi cagar budaya yang dimilikinya dapat dibawa ke pulau Jawa.

Namun, dia tetap bersekukuh untuk menyimpannya sendirian sebagai bukti sejarah untuk generasi di masa mendatang. Bahkan hingga kini, dia menaruh harapan,  agar pemerintah membuatkannya sebuah museum, sebagai tempat penyimpanan cagar budaya yang di koleksinya.

"Iya, ada pernah datang dosen dari UGM, meminta koleksi saya di bawa oleh mereka, tapi saya menolaknya," pungkas.

Safran tidak saja mengetahui cagar budaya dan merawatnya, tapi juga bisa menjelaskan tentang sejarah kecamatan Hu'u. Mulai dari nama kampung, sampai bagaimana hubungan masyarakat zaman dulu dengan daerah luar, beserta pengaruhnya hingga kini.

Seperti nama dusun Nangasia yang berada di Desa Marada, yang diyakininya karena adanya pengaruh dari Persia. Begitu juga dengan sejarah Desa Daha yang memiliki hubungan dengan kerajaan-kerajaan besar di tanah air.

"Desa Daha memiliki hubungan dengan daerah lain di masa lalu, karena wilayah ini sering dimintai bantuan oleh kerajaan yang kalah perang ketika itu," terangnya.

Pewarta : Radent
Editor : NDY

0 Response to "'Safran' Sang Pegiat Cagar Budaya di Kecamatan Hu'u"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel